Berbicara
masalah perluasan bukanlah permbicaraan yang bisa ditinjau dari satu
aspek. Mengingat perluasan berhubungan erat dengan hajat hidup orang
banyak. Disamping itu, issu perluasan tentunya akan berbenturan dengan
banyak kepentingan , tidak hanya kepentingan individu tetapi juga
kepentingan kultur budaya dan sejarah. Oleh karena itu memandang
persoalan perluasan tidak boleh dengan dari satu sudut, perlu
orang-orang visioner yang punya pandangan jauh kedepan akan hakekat
sebuah perluasan. Demikian disampaikan Ketua Umum PB Germasi, Samsul
Pasaribu didampingi sekretaris jenderal PB Germasi Andi Josua kepada
Harian Surat dalam menyikapi munculnya pro-kontra perluasan belakangan ini.
Samsul
mengatakan bahwa, siapa pun berhak menyampaikan pendapatnya perihal
wacana perluasan yang kembali dibahas banyak pihak. Dan siapa pun berhak
pula setuju atau tidak setuju. Yang harus dicermati adalah mencari
korelasi antara alasan setuju atau tidak setuju dengan hakekat dari
sebuah perluasan atau pemekaran. Bila dilihat dari alasan paling
mendasar tuntutan pemekaran atau perluasan yang terjadi selama ini
diseluruh Indonesia adalah dalam rangka pemerataan kesejahteraan dan
upaya mempercepat pembangunan. Oleh karena itu, selama alasan yang
dikemukakan berhubungan erat dengan itu maka sah-sah saja setuju atau
tidak setuju. Akan tetapi bila konteksnya dikaitkan dengan sejarah masa
lalu, harus dipahami bahwa sejarah dibentuk oleh setiap generasi dan
individu oleh karena itu, karena setiap masa ada orangnya dan setiap
orang ada masanya maka kedepan sejarah yang lebih baik harus bisa
diciptakan oleh generasi berikutnya. Kaitannya dengan perluasan Sibolga
yang mencaplok beberapa daerah Kabupaten Tapanuli Tengah maka warga
masyarakat yang ada dimasa ini harus berani mengukit sejarah baru dan
melahirkan langkah-langkah kongkrit mempercepat terwujudnya
kesejahteraan dan pemerataan pembangunan.