Jumat, 23 November 2012

Samsul Pasaribu “Kakanwil Kemenag Sumut harus copot Kakankemenag Tapteng”

Terkait Pelaksanaan Jambore Madrasah di Barus


Bandung | Kontroversi pelaksanaan Jambore Madrasah di Barus yang dilaksanakan oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kab. Tapanuli Tengah mendapat tanggapan dari aktivis gerakan pramuka Sumatera Utara, Samsul Pasaribu. Mantan ketua Dewan Kerja Cabang Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Kota Sibolga periode 2004-2009 ini menyesalkan langkah keliru yang dilakukan oleh Kemenag Tapanuli Tengah.

Menurut Samsul, ketiadaan koordinasi antara Kemenag Tapteng dengan Gerakan Pramuka berakibat fatal kepada rusaknya image pramuka ditengah-tengah masyarakat khususnya di wilayah Tapanuli.

Penggunaan atribut dan simbol pramuka diluar kegiatan kepramukaan jelas bertentangan dengan UU nomor 10 tahun 2012 dan AD dan ART Gerakan Pramuka yang secara konstitusional dilindungi oleh negara. Oleh karena itu Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara harus mencopot Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai konsekuensi moral atas kecerobohan beliau yang tidak peka terhadap aturan main digerakan pramuka.


Lanjut Samsul, ada dugaan bahwa kegiatan Jambore Madrasah yang dilakukan baru-baru ini terlalu dipaksakan dan sarat dengan kepentingan pihak tertentu serta hanya untuk menghabiskan anggaran. Dugaan itu diperkuat pula dengan agenda kegiatan yang berkedok kegiatan pramuka itu, tidak sama sekali mencerminkan kegiatan kepramukaan. Nuansa gerakan kepanduaanya minim sama sekali. “dari tim yang kita kirim kesana, kegiatan itu lebih layak disebut sebagai pekan olahraga dan seni ketimbang giat prestasi gerakan pramuka berdasarkan pola pembinaan yang ada” sesal beliau.

Lebih lanjut ketua umum PB Germasi ini juga menjelaskan bahwa ajang Jambore Madrasah tersebut juga sarat dengan pembodohan dan mempermainkan para pejabat negara yang hadir disana. “bayangkan saja, acara  bukan acara pramuka tetapi bupati Tapteng, Kakanwil Kemenag Sumut, serta undangan lainnya hadir dengan pakaian pramuka. Saya secara pribadi saja geli melihatnya. Geli karena saya berpikir, ini yang gak ngerti siapa ya? Pejabat yang diundang atau panitia yang mengundang. Jadi, jelas bahwa realita yang terlihat dilapangan Kemenag Tapteng dan Kwartir cabang yang ada tidak ada koordinasi sama sekali” tambahnya.

“awalnya kita menduga itu kemah santri. Karena kemah santri memang secara nasional teragendakan dengan rutin. Itu pun tetap ada kordinasi dengan kwartir nasional hingga kejajaran dibawahnya. Kendati kemah santri tetapi kegiatannya tetap kegiatan pramuka hanya saja nuansa religiusnya lebih kuat dan dominan. Berbeda dengan Jambore Madrasah yang di Barus. Itu mah, hanya sekumpulan pelajar yang berkemah dan ada kegiatan olahraganya, masalahnya kenapa pakai atribut pramuka” terangnya.

“Jadi, kita berharap Kakanwil Kemenag Sumut harus tegas dalam hal ini. Ketegasan itu dibuktikan dengan dicopotnya Kakankemenang Tapteng. Kalau tidak, besar kemungkinan kesalahan yang sama akan terulang kembali” ucap pemuda yang aktif dipergerakan mahasiswa nasional ini.



Tidak ada komentar: